Kresna (Dewanagari: कृष्ण; IAST: kṛṣṇa; dibaca [ˈkr̩ʂɳə]) adalah salah satu
dewa yang dipuja oleh
umat Hindu, berwujud pria berkulit gelap atau biru tua, memakai
dhoti kuning dan
mahkota yang dihiasi bulu
merak. Dalam
seni lukis dan
arca, umumnya ia digambarkan sedang bermain seruling sambil berdiri dengan kaki yang ditekuk ke samping. Legenda Hindu dalam kitab
Purana dan
Mahabharata menyatakan bahwa ia adalah putra kedelapan
Basudewa dan
Dewaki, bangsawan dari
kerajaan Surasena, kerajaan mitologis di
India Utara. Secara umum, ia dipuja sebagai
awatara (
inkarnasi)
Dewa Wisnu kedelapan di antara
sepuluh awatara Wisnu. Dalam beberapa tradisi perguruan Hindu, misalnya
Gaudiya Waisnawa, ia dianggap sebagai manifestasi dari kebenaran mutlak, atau perwujudan Tuhan itu sendiri,
[1] dan dalam tafsiran kitab-kitab yang mengatasnamakan
Wisnu atau Kresna, misalnya
Bhagawatapurana, ia dimuliakan sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa.
[2] Dalam
Bhagawatapurana, ia digambarkan sebagai sosok
penggembala muda yang mahir bermain
seruling, sedangkan dalam
wiracarita Mahabharata
ia dikenal sebagai sosok pemimpin yang bijaksana, sakti, dan berwibawa.
Selain itu ia dikenal pula sebagai tokoh yang memberikan ajaran
filosofis, dan umat Hindu meyakini
Bhagawadgita sebagai kitab yang memuat
kotbah Kresna kepada
Arjuna tentang ilmu rohani.
Kisah-kisah mengenai Kresna muncul secara luas di berbagai ruang
lingkup agama Hindu, baik dalam tradisi filosofis maupun teologis.
[3]
Berbagai tradisi menggambarkannya dalam berbagai sudut pandang: sebagai
dewa kanak-kanak, tukang kelakar, pahlawan sakti, dan Yang Mahakuasa.
[4] Kehidupan Kresna dibahas dalam beberapa
susastra Hindu, yaitu
Mahabharata,
Hariwangsa,
Bhagawatapurana, dan
Wisnupurana.
Pemujaan terhadap
dewa atau pahlawan yang disebut Kresna—dalam wujud
Basudewa,
Balakresna atau
Gopala—dapat ditelusuri sampai awal
abad ke-4 SM. Pemujaan Kresna sebagai
Swayam Bhagawan, atau Tuhan Yang Mahakuasa, yang dikenal sebagai
Kresnaisme, muncul pada Abad Pertengahan dalam situasi
Gerakan Bhakti. Dari
abad ke-10 M,
Kresna menjadi subjek favorit dalam seni pertunjukan. Tradisi pemujaan
di masing-masing daerah mengembangkan berbagai macam wujud/aspek Kresna
seperti
Jagadnata di
Orissa,
Witoba di
Maharashtra dan
Shrinathji di
Rajasthan. Sekte
Gaudiya Waisnawa yang terpusat pada pemujaan kepada Kresna didirikan pada
abad ke-16, dan sejak tahun
1960-an juga telah menyebar di
Dunia Barat.Riwayat Kresna dapat disimak dalam kitab
Mahabharata,
Hariwangsa,
Bhagawatapurana,
Brahmawaiwartapurana, dan
Wisnupurana. Latar belakang kehidupan Kresna pada masa kanak-kanak dan remaja adalah
India Utara, yang mana sekarang merupakan wilayah negara bagian
Uttar Pradesh,
Bihar,
Haryana, sementara lokasi kehidupannya sebagai pangeran di
Dwaraka sekarang dikenal sebagai negara bagian
Gujarat.
Kresna merupakan anggota keluarga bangsawan di
Mathura, ibukota
kerajaan Surasena di
India Utara (kini kawasan
Uttar Pradesh). Ia terlahir sebagai putra kedelapan
Basudewa (putra Raja
Surasena) dan
Dewaki (keponakan Raja
Ugrasena). Orang tuanya termasuk kaum
Yadawa atau keturunan
Yadu, putra raja legendaris
Yayati. Raja
Kangsa, kakak sepupu Dewaki,
[39] mewarisi tahta setelah menjebloskan ayahnya sendiri ke penjara, yaitu
Ugrasena.
Pada suatu ketika, ia mendengar ramalan yang menyatakan bahwa ia akan
mati di tangan salah satu putra Dewaki. Karena mencemaskan nasibnya, ia
mencoba membunuh Dewaki, namun Basudewa mencegahnya. Basudewa menyatakan
bahwa mereka bersedia dikurung dan berjanji akan menyerahkan setiap
putra mereka yang baru lahir untuk dibunuh. Setelah enam putra
pertamanya terbunuh, dan Dewaki kehilangan putra ketujuhnya, maka
lahirlah Kresna. Karena hidup Kresna terancam bahaya, maka ia
diselundupkan keluar penjara oleh Basudewa dan dititipkan pada
Nanda dan
Yasoda, sahabat Basudewa di
Vrindavan. Dua saudaranya yang lain juga selamat yaitu,
Baladewa alias
Balarama (putra ketujuh Dewaki, dipindahkan secara ajaib ke janin
Rohini, istri pertama Basudewa) dan
Subadra (putra dari Basudewa dan Rohini yang lahir setelah Baladewa dan Kresna).
Menurut kitab
Bhagawatapurana, Kresna lahir tanpa
hubungan seksual, melainkan melalui "transmisi mental" dari pikiran Basudewa ke rahim
Dewaki. Umat Hindu meyakini bahwa pada masa itu, jenis ikatan tersebut dapat dilakukan oleh makhluk-makhluk yang mencapainya.
[36][40][41] Tempat yang dipercaya oleh para pemujanya untuk memperingati hari kelahiran Kresna kini dikenal sebagai
Krishnajanmabhumi, dimana sebuah kuil didirikan untuk memberi penghormatan kepadanya.
Kunti (Dewanagari: कुंती; IAST: Kuntī) atau
Perta (Dewanagari: पृथा; IAST: Pṛthā), dalam
wiracarita Mahabharata, adalah putri kandung
Surasena, raja Wangsa
Yadawa,
[1] dan diangkat sebagai putri oleh
Kuntiboja.
[2] Ia merupakan saudara
Basudewa, ayah dari
Baladewa,
Kresna, dan
Subadra. Ia juga merupakan ibu kandung
Yudistira,
Werkodara (Bima), dan
Arjuna dan juga adalah istri pertama
Pandu yang sah. Selain itu Kunti juga ibu kandung
Karna. Sepeninggal Pandu, ia mengasuh
Nakula dan
Sadewa, anak Pandu dan
Madri. Seusai
Bharatayuddha (
Perang besar keluarga Bharata), ia dan iparnya—
Dretarastra,
Gandari, dan
Widura—pergi bertapa sampai akhir hayatnya.
Ayah Kunti adalah Raja
Surasena dari Wangsa
Yadawa, dan saat bayi ia diberi nama Pritha. Ia merupakan adik
Basudewa, ayah
Kresna. Kemudian ia diadopsi oleh Raja
Kuntiboja yang tidak memiliki anak, dan semenjak itu ia diberi nama Kunti.
Pada saat Kunti masih muda, ia diberi sebuah mantra sakti oleh Resi
Durwasa agar mampu memanggil
Dewa-Dewi sesuai dengan yang dikehendakinya. Pada suatu hari, Kunti ingin mencoba naugerah tersebut dan memanggil salah satu Dewa, yaitu
Surya.
Surya yang merasa terpanggil, bertanya kepada Kunti, apa yang
diinginkannya. Namun Kunti menyuruh Sang Dewa untuk kembali ke
kediamannya. Karena Kunti sudah memanggil dewa tersebut agar datang ke
bumi namun tidak menginginkan berkah apapun, Sang Dewa memberikan
seorang putra kepada Kunti.
Kunti tidak ingin memiliki putra semasih muda, maka ia memasukkan
anak tersebut ke dalam keranjang dan menghanyutkannya di sungai Aswa.
Kemudian putra tersebut dipungut oleh seorang kusir di keraton
Hastinapura yang bernama
Adirata; anak tersebut diberi nama
Karna.
Kunti menikah dengan
Pandu, seorang raja di
Hastinapura, dalam sebuah
sayembara. Pandu juga menikahi
Madri sebagai istri kedua, namun Pandu tidak mampu memiliki anak karena kutukan yang diterimanya setelah membunuh Resi
Kindama
tanpa sengaja. Demi menebus kesalahannya, Pandu dan kedua istrinya
hidup di hutan sebagai pertapa. Di sana, Kunti mengeluarkan mantra
rahasianya. Ia memanggil tiga dewa dan meminta tiga putra dari mereka.
Putra pertama diberi nama
Yudistira dari Dewa
Yama (atau Dewa Dharma), yang kedua bernama
Bima dari Dewa
Bayu, dan yang terakhir bernama
Arjuna dari Dewa
Indra. Demi menjaga perasaan istri kedua Pandu, maka Kunti mengajarkan mantra tersebut kepada Madri. Madri memangil Dewa
Aswin dan menerima putra kembar, yang diberi nama
Nakula dan
Sadewa. Kelima putra Pandu tersebut dikenal dengan nama
Pandawa. Setelah kematian
Pandu dan
Madri, Kunti mengasuh kelima putra tersebut sendirian. Sesuai dengan amanat Madri, Kunti berjanji akan memperlakukan
Nakula dan
Sadewa seperti putranya sendiri.
Selama kelima putranya pergi ke pengasingan selama 13 tahun, Kunti tinggal di rumah iparnya,
Widura. Kisah Kunti juga tercantum dalam
Bhagawatapurana, dan di sana ia muncul sebagai narator untuk suatu devosi Hindu yang dikenal dengan istilah
Bhaktiyoga.
[3]
Setelah
pertempuran besar di
Kurukshetra berkecamuk dan usianya sudah sangat tua, Kunti pergi ke hutan bersama dengan ipar-iparnya yang lain seperti
Dretarastra,
Widura, dan
Gandari
untuk meninggalkan kehidupan duniawi. Mereka menyerahkan kerajaan
kepada Yudistira. Di dalam hutan, Kunti dan yang lainnya terbakar oleh
api suci mereka sendiri dan wafat di sana.
[4]
Yudistira (Dewanagari: युधिष्ठिर; IAST: Yudhiṣṭhira) alias
Dharmawangsa, adalah salah satu tokoh protagonis dalam
wiracarita Mahabharata. Ia merupakan seorang raja yang memerintah
kerajaan Kuru, dengan pusat pemerintahan di
Hastinapura. Ia merupakan yang tertua di antara lima
Pandawa, atau para putra
Pandu. Dalam tradisi
pewayangan, Yudistira diberi gelar
prabu dan memiliki julukan Puntadewa, sedangkan kerajaannya disebut dengan nama
Kerajaan Amarta.
Nama
Yudistira dalam
bahasa Sanskerta bermakna "teguh atau kokoh dalam peperangan". Dalam kitab
Mahabharata, ia juga disebut dengan nama
Bharata[1] (keturunan Maharaja
Bharata) dan
Ajatasatru[2] Ia juga dikenal dengan sebutan
Dharmaraja, yang bermakna "raja
Dharma", karena ia selalu berusaha menegakkan
dharma sepanjang hidupnya.
Beberapa julukan lain yang dimiliki Yudhisthira adalah
Kururaja (कुरुराज, "pemuka bangsa
Kuru"),
Kurunandana (कुरुनन्दन, "kesayangan
Dinasti Kuru"), Kurupati (कुरुपति, "raja
Dinasti Kuru"),
Pandawa (पान्दव, "putra
Pandu"), Parta (पार्थ, "putra
Prita atau
Kunti").
Beberapa di antara nama-nama di atas juga dipakai oleh tokoh-tokoh Dinasti Kuru lainnya, misalnya
Arjuna,
Bisma, dan
Duryodana.
Selain nama-nama di atas, dalam versi pewayangan Jawa masih terdapat
beberapa nama atau julukan yang lain lagi untuk Yudistira, misalnya:
Puntadewa ("derajat keluhurannya setara para
dewa"),
Yudistira ("pandai memerangi nafsu pribadi"),
Gunatalikrama ("pandai bertutur bahasa"),
Samiaji ("menghormati orang lain bagai diri sendiri").
Yudistira adalah putra tertua pasangan
Pandu dan
Kunti, raja dan ratu dari kalangan
Dinasti Kuru, dengan pusat pemerintahan di
Hastinapura. Kitab
Mahabharata bagian pertama (
Adiparwa) mengisahkan tentang kutukan yang dialami Pandu setelah membunuh
brahmana bernama Resi
Kindama tanpa sengaja. Brahmana itu terkena panah Pandu ketika ia dan istrinya sedang
bersanggama dalam wujud sepasang
rusa.
Menjelang ajalnya tiba, Resi Kindama sempat mengutuk Pandu bahwa kelak
ia akan mati ketika bersetubuh dengan istrinya. Dengan penuh penyesalan,
Pandu meninggalkan takhta
Hastinapura dan memulai hidup sebagai pertapa di hutan untuk mengurangi hawa nafsu. Kedua istrinya, yaitu
Kunti dan
Madri
dengan setia mengikutinya. Setelah lama tidak dikaruniai keturunan,
Pandu mengutarakan niatnya untuk memiliki anak. Kunti yang menguasai
mantra Adityahredaya segera mewujudkan keinginan suaminya. Mantra tersebut adalah ilmu pemanggil
dewa untuk mendapatkan putera. Dengan menggunakan mantra itu, Kunti berhasil mendatangkan
Dewa Dharma dan mendapatkan anugerah putra darinya tanpa melalui
persetubuhan. Putra pertama itu diberi nama Yudistira. Dengan demikian, Yudistira menjadi putra sulung
Pandu, sebagai hasil pemberian
Dharma, yaitu dewa keadilan dan kebijaksanaan.
Kisah dalam
pewayangan Jawa agak berbeda. Menurut versi ini, Puntadewa merupakan anak kandung Pandu yang lahir di istana
Hastinapura. Kedatangan
Bhatara Dharma
hanya sekadar menolong kelahiran Puntadewa dan memberi restu untuknya.
Berkat bantuan dewa tersebut, Puntadewa lahir melalui ubun-ubun
Kunti.
Dalam pewayangan Jawa, nama Puntadewa lebih sering dipakai, sedangkan
nama Yudistira baru digunakan setelah ia dewasa dan menjadi raja. Versi
ini melukiskan Puntadewa sebagai seorang manusia berdarah putih, yang
merupakan kiasan bahwa ia adalah sosok berhati suci dan selalu
menegakkan kebenaran.
Setelah selamat dari konspirasi pembunuhan oleh
Duryodana dan
Sangkuni, para Pandawa dan Kunti pergi melintasi kota Ekachakra, lalu tinggal sementara di
kerajaan Panchala.
Arjuna berhasil memenangkan
sayembara di kerajaan tersebut dan memperoleh seorang putri cantik yang bernama
Dropadi.
Tanpa sengaja Kunti memerintahkan agar Dropadi dibagi lima. Akibatnya,
Dropadi pun menjadi istri kelima Pandawa. Dari perkawinan dengan
Yudistira, Dropadi melahirkan Pratiwindya.
[4] Istri keduanya bernama Dewika, putri Gowasana dari
suku Saibya, dan memiliki putra bernama Yodeya.
[5]
Versi
Jawa
menyebut Dropadi dengan nama "Drupadi". Menurut pewayangan Jawa,
setelah memenangkan sayembara, Arjuna menyerahkan putri itu kepada
Puntadewa selaku kakak tertua. Semula Puntadewa menolak, namun setelah
didesak oleh ibu dan keempat adiknya, akhirnya ia pun bersedia menikahi
Drupadi. Dari perkawinan itu lahir seorang putra bernama
Pancawala. Jadi, menurut versi asli, tokoh
Dropadi menikah dengan kelima
Pandawa, sedangkan menurut versi
Jawa, ia hanya menikah dengan Yudistira seorang.
Setelah menikahi
Dropadi, para
Pandawa kembali ke
Hastinapura dan memperoleh sambutan luar biasa, kecuali dari pihak
Duryodana.
Persaingan antara Pandawa dan Korawa atas takhta Hastinapura kembali
terjadi. Para sesepuh akhirnya sepakat untuk memberi Pandawa sebagian
dari wilayah kerajaan tersebut. Korawa mendapatkan istana Hastinapura,
sedangkan Pandawa mendapatkan hutan Kandawaprastha sebagai tempat untuk
membangun istana baru. Meskipun daerah tersebut sangat gersang dan
angker, namun para Pandawa bersedia menerima wilayah tersebut. Selain
wilayahnya yang seluas hampir setengah wilayah
kerajaan Kuru, Kandawaprastha juga merupakan ibukota kerajaan Kuru yang dulu, sebelum
Hastinapura. Para Pandawa dibantu sepupu mereka, yaitu
Kresna dan
Baladewa, dan berhasil membuka Kandawaprastha menjadi pemukiman baru. Para Pandawa kemudian memperoleh bantuan dari
Wiswakarma, yaitu ahli bangunan dari kahyangan, dan juga Anggaraparna dari bangsa
Gandharwa. Maka terciptalah sebuah istana megah dan indah bernama
Indraprastha, yang bermakna "kota Dewa Indra".
Bima (Dewanagari: भीम; IAST: Bhīma) atau
Bimasena (Dewanagari: भीमसेन; IAST: Bhīmaséna) adalah seorang tokoh protagonis dalam
wiracarita Mahabharata. Ia merupakan putra
Kunti, dan dikenal sebagai tokoh
Pandawa yang kuat, bersifat selalu kasar dan menakutkan bagi musuh,
[1]
walaupun sebenarnya berhati lembut. Di antara Pandawa, dia berada di
urutan kedua dari lima bersaudara. Saudara seayahnya ialah
Hanoman,
wanara terkenal dalam epos
Ramayana.
Mahabharata menceritakan bahwa Bima gugur di pegunungan bersama keempat saudaranya setelah
Bharatayuddha berakhir. Cerita tersebut dikisahkan dalam jilid ke-18
Mahabharata yang berjudul
Mahaprasthanikaparwa.
Bima setia pada satu sikap, yaitu tidak suka berbasa-basi, tak pernah
bersikap mendua, serta tidak pernah menjilat ludahnya sendiri. Dalam
wiracarita Mahabharata diceritakan bahwa
Pandu tidak dapat membuat keturunan akibat kutukan dari seorang
resi di hutan.
Kunti (istri Pandu) berseru kepada
Bayu,
sang dewa angin. Dari hubungan Kunti dengan Bayu, lahirlah Bima. Atas
anugerah dari Bayu, Bima menjadi orang yang paling kuat dan penuh dengan
kasih sayang.
Dalam
perang di Kurukshetra, Bima berperan sebagai komandan tentara Pandawa. Ia berperang dengan menggunakan senjata
gada. Pada hari terakhir
Bharatayuddha, Bima berkelahi melawan
Duryodana dengan menggunakan senjata gada. Pertarungan berlangsung dengan sengit dan lama, sampai akhirnya
Kresna
mengingatkan Bima bahwa ia telah bersumpah akan mematahkan paha
Duryodana. Seketika Bima mengayunkan gadanya ke arah paha Duryodana.
Setelah pahanya diremukkan, Duryodana jatuh ke tanah, dan beberapa lama
kemudian ia mati. Baladewa marah hingga ingin membunuh Bima, namun
ditenangkan Kresna karena Bima hanya ingin menjalankan sumpahnya.
Arjuna (Dewanagari: अर्जुन; IAST: Arjuna) adalah nama seorang tokoh
protagonis dalam
wiracarita Mahabharata. Ia dikenal sebagai anggota
Pandawa yang berparas menawan dan berhati lemah lembut. Dalam
Mahabharata diriwayatkan bahwa ia merupakan putra Prabu
Pandu, raja di
Hastinapura dengan
Kunti atau Perta, putri Prabu
Surasena, raja
Wangsa Yadawa di
Mathura.
Mahabharata mendeskripsikan Arjuna sebagai teman dekat
Kresna, yang disebut dalam kitab
Purana sebagai
awatara (penjelmaan)
Dewa Wisnu.
Hubungan antara Arjuna dan Kresna sangat erat, sehingga Arjuna meminta
kesediaannya sebagai penasihat sekaligus kusir kereta Arjuna saat perang
antara
Pandawa dan
Korawa berkecamuk (
Bharatayuddha). Dialog antara Kresna dan Arjuna sebelum perang Bharatayuddha berlangsung terangkum dalam suatu kitab tersendiri yang disebut
Bhagawadgita,
yang secara garis besar berisi wejangan suci yang disampaikan oleh
Kresna karena Arjuna mengalami keragu-raguan untuk menunaikan
kewajibannya sebagai seorang kesatria di medan perang.Dalam
Mahabharata diceritakan bahwa Prabu
Pandu tidak bisa melanjutkan keturunan karena dikutuk oleh seorang
resi.
Kunti—istri pertamanya—menerima anugerah dari
Resi Durwasa sehingga mampu memanggil
dewa
sesuai dengan keinginannya, dan juga dapat memperoleh anugerah dari
dewa yang dipanggilnya. Pandu dan Kunti memanfaatkan anugerah tersebut
untuk memanggil Dewa
Yama (Dharmaraja; Yamadipati),
Bayu (Maruta), dan
Indra
(Sakra) yang kemudian memberi mereka tiga putra. Arjuna merupakan putra
ketiga, lahir dari Indra, pemimpin para Dewa. Ia lahir di lereng gunung
Himawan, di sebuah tempat yang disebut Satsringa pada hari saat bintang
Utara Phalguna tampak di
zenith.
Dalam
Adiparwa diceritakan bahwa
Duryodana—salah satu
Korawa—menganjurkan agar Pandawa beserta ibunya (
Kunti)
berlibur di suatu rumah di luar kerajaan. Sesungguhnya Duryodana telah
mempersiapkan agar rumah tersebut dapat terbakar dengan mudah, karena ia
membenci para Pandawa, terutama
Bima.
Widura,
paman para Pandawa dan Korawa yang waspada meminta agar para Pandawa
berhati-hati dan mempersiapkan cara untuk menghadapi kemungkinan buruk
yang dapat terjadi. Saat para Pandawa menginap, Purocana, pesuruh
Duryodana membakar rumah tersebut. Para Pandawa beserta ibunya berhasil
lolos melalui terowongan yang telah digali sebelumnya. Mereka melarikan
diri ke tengah hutan dan menumpang di rumah penduduk sekitar.
Pada suatu ketika, sekelompok
brahmana berkumpul di tempat para Pandawa melarikan diri. Mereka membicarakan sebuah
sayembara yang akan diadakan di
Kerajaan Panchala. Para Pandawa datang ke tempat sayembara dengan menyamar sebagai kaum brahmana. Raja
Drupada dari Panchala mengadakan sayembara untuk mendapatkan
Dropadi,
putrinya. Sebuah ikan kayu diletakkan di atas kubah balairung, dan di
bawahnya terdapat kolam yang memantulkan bayangan ikan yang berada di
atas. Aturan menyebutkan bahwa siapa pun yang berhasil memanah ikan
tersebut dengan hanya melihat pantulannya di kolam, maka ia berhak
mendapatkan Dropadi.
Berbagai kesatria mencoba melakukannya, namun tidak berhasil. Ketika
Karna
yang hadir pada saat itu ikut mencoba, ia berhasil memanah ikan
tersebut dengan baik. Namun ia ditolak oleh Dropadi dengan alasan Karna
lahir di
kasta rendah. Arjuna bersama saudaranya yang lain menyamar sebagai
Brahmana,
turut serta menghadiri sayembara tersebut. Arjuna berhasil memanah ikan
tepat sasaran dengan hanya melihat pantulan bayangannya di kolam, dan
ia berhak mendapatkan Dropadi. Ketika para
Pandawa pulang membawa Dropadi, mereka mengaku telah membawa sedekah.
Kunti—ibu
para Pandawa—yang sedang sibuk, menyuruh mereka untuk membagi rata apa
yang sudah mereka dapatkan. Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Kunti,
maka para Pandawa bersepakat untuk membagi Dropadi sebagai istri
mereka. Mereka juga berjanji tidak akan mengganggu Dropadi ketika sedang
bermesraan di kamar bersama dengan salah satu dari Pandawa. Hukuman
dari perbuatan yang mengganggu adalah pembuangan selama satu tahun.
Nakula (Dewanagari: नकुल; IAST: Nakula), adalah seorang tokoh
protagonis dalam
wiracarita Mahabharata. Ia merupakan putra
Madri, kakak ipar
Kunti. Ia adalah saudara kembar
Sadewa dan dianggap putra Dewa
Aswin, dewa tabib kembar. Menurut kitab
Mahabharata, Nakula sangat tampan dan sangat elok parasnya. Menurut
Dropadi,
Nakula merupakan suami yang paling tampan di dunia. Namun, sifat buruk
Nakula adalah membanggakan ketampanan yang dimilikinya. Hal itu
diungkapkan oleh
Yudistira dalam kitab
Mahaprasthanikaparwa. Selain tampan, Nakula juga memiliki kemampuan khusus dalam merawat kuda dan astrologi.
Menurut
Mahabharata, si kembar Nakula dan
Sadewa memiliki kemampuan istimewa dalam merawat
kuda dan
sapi.
Nakula digambarkan sebagai orang yang sangat menghibur hati. Ia juga
teliti dalam menjalankan tugasnya dan selalu mengawasi sifat jahil
kakaknya,
Bima, dan bahkan terhadap senda gurau yang terasa serius. Nakula juga memiliki kemahiran dalam memainkan senjata
pedang.
Saat para
Pandawa mengalami pengasingan di dalam hutan, keempat Pandawa (
Bima,
Arjuna, Nakula,
Sadewa) meninggal karena meminum air beracun dari sebuah danau. Ketika sesosok roh gaib memberi kesempatan kepada
Yudistira untuk memilih salah satu dari keempat saudaranya untuk dihidupkan kembali, Nakula-lah dipilih oleh
Yudistira untuk hidup kembali. Ini karena Nakula merupakan putra
Madri, dan
Yudistira—yang merupakan putra
Kunti—ingin
bersikap adil terhadap kedua ibu tersebut. Apabila ia memilih Bima atau
Arjuna, maka tidak ada lagi putra Madri yang akan melanjutkan
keturunan.
Ketika para Pandawa harus menjalani masa penyamaran di
Kerajaan Wirata, Nakula menyamar sebagai perawat kuda dengan nama samaran Damagranti. Nakula turut serta dalam
pertempuran akbar di Kurukshetra, dan memenangkan perang besar tersebut.
Dalam kitab
Mahaprasthanikaparwa, yaitu kitab ketujuh belas dari seri
Astadasaparwa Mahabharata, diceritakan bahwa Nakula tewas dalam perjalanan ketika para
Pandawa hendak mencapai puncak gunung
Himalaya. Sebelumnya,
Dropadi tewas dan disusul oleh saudara kembar Nakula yang bernama
Sadewa. Ketika Nakula terjerembab ke tanah,
Bima bertanya kepada
Yudistira
perihal alasan kematian Nakula. Yudistira menjawab bahwa Nakula sangat
rajin dan senang menjalankan perintah kita. Namun Nakula sangat
membanggakan ketampanan yang dimilikinya, dan tidak mau mengalah. Karena
sikapnya tersebut, ia hanya hidup sampai di tempat itu. Setelah
mendengar penjelasan
Yudistira, maka
Bima dan
Arjuna melanjutkan perjalanan mereka. Mereka meninggalkan jenazah Nakula di sana, tanpa
upacara pembakaran yang layak, namun arwah Nakula mencapai kedamaian.
Sadewa (Dewanagari: सहदेव; IAST: Sahadéva) adalah salah satu tokoh utama dalam
wiracarita Mahabharata. Ia merupakan anggota
Pandawa yang paling muda, yang memiliki saudara kembar bernama
Nakula.
Meskipun kembar, Nakula dikisahkan memiliki wajah yang lebih tampan
daripada Sadewa, sedangkan Sadewa lebih pandai daripada kembarannya.
Dalam hal perbintangan atau
astronomi, kepandaian Sadewa jauh di atas murid-murid
Drona
yang lain. Selain itu, ia juga pandai dalam hal beternak sapi. Maka
ketika para Pandawa menjalani hukuman menyamar selama setahun di
Kerajaan Matsya akibat kalah bermain dadu melawan
Korawa, Sadewa pun memilih peran sebagai seorang gembala sapi bernama Tantripala.
Meskipun Sadewa merupakan Pandawa yang paling muda, namun ia dianggap sebagai yang terbijak di antara mereka.
Yudistira bahkan pernah berkata bahwa Sadewa lebih bijak daripada
Wrehaspati,
guru para dewa. Sadewa merupakan ahli perbintangan yang ulung dan mampu
meramalkan kejadian yang akan datang. Namun ia pernah dikutuk apabila
sampai membeberkan rahasia takdir, maka kepalanya akan terbelah menjadi
dua.
Sadewa merupakan yang termuda di antara para
Pandawa, yaitu sebutan untuk kelima putra
Pandu, raja di
Hastinapura. Sadewa dan saudara kembarnya, Nakula, lahir dari rahim putri
Kerajaan Madra yang bernama
Madri (dalam pewayangan disebut Madrim). Sementara itu ketiga kakak mereka, yaitu
Yudistira,
Bimasena, dan
Arjuna lahir dari rahim
Kunti.
Meskipun demikian, Sadewa dikisahkan sebagai putra yang paling
disayangi Kunti. Nakula dan Sadewa lahir sebagai anugerah dewa kembar
bernama
Aswin,
karena Pandu saat itu sedang menjalani kutukan sehingga tidak bisa
bersetubuh dengan istrinya. Keduanya lahir di tengah hutan ketika Pandu
sedang menjalani kehidupan sebagai pertapa.
Setelah kemenangan
Arjuna atas
sayembara memanah di
Kerajaan Pancala, maka semua
Pandawa bersama-sama menikah dengan
Dropadi,
putri negeri tersebut. Dari perkawinan tersebut Sadewa memiliki putra
bernama Srutakirti. Selain itu, Sadewa juga menikahi puteri
Jarasanda, raja
Kerajaan Magadha. Kemudian dari istrinya yang bernama Wijaya, lahir seorang putra bernama Suhotra.
Dropadi,
Drupadi, atau
Draupadi (
Sanskerta: द्रौपदी;
Draupadī) adalah salah satu tokoh dari
wiracarita Mahabharata. Ia adalah puteri Prabu
Drupada, raja di
kerajaan Panchala. Pada kitab
Mahabharata versi aslinya, Dropadi adalah istri para
Pandawa lima semuanya. Tetapi dalam tradisi
pewayangan Jawa di kemudian hari, ia hanyalah
permaisuri Prabu
Yudistira saja.
Dropadi,
Drupadi, atau
Draupadi (
Sanskerta: द्रौपदी;
Draupadī) adalah salah satu tokoh dari
wiracarita Mahabharata. Ia adalah puteri Prabu
Drupada, raja di
kerajaan Panchala. Pada kitab
Mahabharata versi aslinya, Dropadi adalah istri para
Pandawa lima semuanya. Tetapi dalam tradisi
pewayangan Jawa di kemudian hari, ia hanyalah
permaisuri Prabu
Yudistira saja.
Dalam kitab
Mahabharata versi
India dan dalam tradisi pewayangan di
Bali, Dewi Dropadi bersuamikan lima orang, yaitu
Panca Pandawa. Pernikahan tersebut terjadi setelah para Pandawa mengunjungi
Kerajaan Panchala dan mengikuti sayembara di sana. Sayembara tersebut diikuti oleh para kesatria terkemuka di seluruh penjuru daratan
Bharatawarsha (India Kuno), seperti misalnya
Karna dan
Salya. Para Pandawa berkumpul bersama para kesatria lain di arena, namun mereka tidak berpakaian selayaknya seorang
kesatria, melainkan menyamar sebagai
brahmana.
Di tengah-tengah arena ditempatkan sebuah sasaran yang harus dipanah
dengan tepat oleh para peserta dan yang berhasil melakukannya akan
menjadi suami Dewi Dropadi.
Para peserta pun mencoba untuk memanah sasaran di arena, namun satu per satu gagal.
Karna
berhasil melakukannya, namun Dropadi menolaknya dengan alasan bahwa ia
tidak mau menikah dengan putera seorang kusir. Karna pun kecewa dan
perasaannya sangat kesal. Setelah Karna ditolak,
Arjuna
tampil ke muka dan mencoba memanah sasaran dengan tepat. Panah yang
dilepaskannya mampu mengenai sasaran dengan tepat, dan sesuai dengan
persyaratan, maka Dewi Dropadi berhak menjadi miliknya. Namun para
peserta lainnya menggerutu karena seorang
brahmana mengikuti sayembara sedangkan para peserta ingin agar sayembara tersebut hanya diikuti oleh golongan
kesatria. Karena adanya keluhan tersebut maka keributan tak dapat dihindari lagi.
Arjuna dan
Bima bertarung dengan kesatria yang melawannya sedangkan
Yudistira,
Nakula, dan
Sadewa pulang menjaga Dewi
Kunti, ibu mereka.
Kresna
yang turut hadir dalam sayembara tersebut tahu siapa sebenarnya para
brahmana yang telah mendapatkan Dropadi dan ia berkata kepada para
peserta bahwa sudah selayaknya para brahmana tersebut mendapatkan
Dropadi sebab mereka telah berhasil memenangkan sayembara dengan baik.
Setelah keributan usai,
Arjuna dan
Bima
pulang ke rumahnya dengan membawa serta Dewi Dropadi. Sesampainya di
rumah didapatinya ibu mereka sedang berdoa sambil memikirkan keadaan
kedua anaknya yang sedang bertarung di arena sayembara.
Arjuna dan
Bima datang menghadap dan mengatakan bahwa mereka sudah pulang serta membawa hasil meminta-minta. Dewi
Kunti
menyuruh agar mereka membagi rata apa yang mereka peroleh. Namun Dewi
Kunti terkejut ketika tahu bahwa putera-puteranya tidak hanya membawa
hasil meminta-minta saja, namun juga seorang wanita. Dewi Kunti tidak
mau berdusta maka Dropadi pun menjadi istri
Panca Pandawa.
Setelah menghadiri upacara
Rajasuya,
Duryodana merasa iri kepada
Yudistira yang memiliki harta berlimpah dan istana yang megah. Melihat keponakannya termenung, muncul gagasan jahat dari
Sangkuni. Ia menyuruh keponakannya, Duryodana, agar mengundang Yudistira main dadu dengan taruhan harta, istana, dan kerajaan di
Indraprastha.
Duryodana menerima usul tersebut karena yakin pamannya, Sangkuni,
merupakan ahlinya permainan dadu dan harapan untuk merebut kekayaan
Yudistira ada di tangan pamannya. Duryodana menghasut ayahnya,
Dretarastra, agar mengizinkannya bermain dadu. Yudistira yang juga suka main dadu, tidak menolak untuk diundang. Adegan Dropadi ditelanjangi oleh Dursasana dalam sebuah lukisan tradisional dari daerah
Punjab, dibuat sekitar
abad ke-18.
Yudistira mempertaruhkan harta, istana, dan kerajaannya setelah dihasut oleh
Duryodana dan
Sangkuni.
Karena tidak memiliki apa-apa lagi untuk dipertaruhkan, maka ia
mempertaruhkan saudara-saudaranya, termasuk istrinya, Dropadi. Akhirnya
Yudistira kalah dan Dropadi diminta untuk hadir di arena judi karena
sudah menjadi milik Duryodana. Duryodana mengutus para pengawalnya untuk
menjemput Dropadi, namun Dropadi menolak. Setelah gagal,
Duryodana menyuruh
Dursasana,
adiknya, untuk menjemput Dropadi. Dropadi yang menolak untuk datang,
diseret oleh Dursasana yang tidak memiliki rasa kemanusiaan. Rambutnya
ditarik sampai ke arena judi, tempat suami dan para iparnya berkumpul.
Karena sudah kalah, Yudistira dan seluruh adiknya diminta untuk
menanggalkan bajunya, namun Dropadi menolak. Dursasana yang berwatak
kasar, menarik kain yang dipakai Dropadi, namun kain tersebut
terulur-ulur terus dan tak habis-habis karena mendapat kekuatan gaib
dari Sri
Kresna
yang melihat Dropadi dalam bahaya. Pertolongan Sri Kresna disebabkan
karena perbuatan Dropadi yang membalut luka Sri Kresna pada saat upacara
Rajasuya di
Indraprastha.Dalam kitab
Mahaprasthanikaparwa diceritakan, setelah
Dinasti Yadu musnah, para
Pandawa beserta Dropadi memutuskan untuk melakukan perjalanan suci mengelilingi
Bharatawarsha. Sebagai tujuan akhir perjalanan, mereka menuju pegunungan
Himalaya setelah melewati
gurun yang terbentang di utara Bharatawarsha. Dalam perjalanan menuju ke sana, Dropadi meninggal dunia.
Srikandi (Dewanagari: शिकण्ढी; IAST: Śikhaṇḍī) adalah salah satu putri Raja
Drupada dengan Dewi Gandawati dari
Kerajaan Panchala yang muncul dalam kisah
wiracarita dari
India, yaitu
Mahabharata. Ia merupakan penitisan Putri
Amba yang tewas karena panah
Bisma. Dalam kitab
Mahabharata
diceritakan bahwa ia lahir sebagai seorang wanita, namun karena sabda
dewata, ia diasuh sebagai seorang pria, atau kadangkala berjenis kelamin
netral (waria). Dalam versi
pewayangan Jawa terjadi hal yang hampir sama, namun dalam pewayangan Jawa dikisahkan bahwa ia menikahi
Arjuna dan ini merupakan perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan kisah
Mahabharata versi
India.
Di kehidupan sebelumnya, Srikandi terlahir sebagai wanita bernama
Amba. Kisah mengenai Amba dimuat dalam
Mahabharata jilid pertama, yaitu
Adiparwa.
Bisma—pangeran dari
Kerajaan Kuru—memboyong Amba dari suatu
sayembara di
Kerajaan Kasi,
tanpa mengetahui bahwa Amba sudah memilih Salwa sebagai calon suaminya.
Karena Bisma tidak ingin Amba menikah secara terpaksa, maka ia
memulangkan Amba agar dapat menikah dengan Salwa. Salwa yang merasa
harga dirinya terinjak tidak mau menikahi Amba. Amba pun kembali ke
kediaman Bisma agar dinikahi, namun Bisma menolaknya karena bersumpah
untuk hidup membujang selamanya. Karena merasa terhina, Amba memutuskan
untuk berdoa kepada para dewa agar memperoleh cara untuk membunuh Bisma.
Menurut
Mahabharata yang ditulis ulang C. Rajagopalachari, Dewa
Subramanya
memberikannya puspamala dan bersabda bahwa orang yang bersedia
memakainya akan menjadi pembunuh Bisma. Amba pun mencari orang yang
bersedia memakainya, namun tidak ada yang berani meskipun ada jaminan
keberhasilan dari sang dewa. Setelah ditolak berbagai kesatria, akhirnya
Amba tiba di istana Raja
Drupada,
dan mendapatkan hasil yang sama. Dengan putus asa, Amba melemparkan
puspamala tersebut ke atas gerbang istana dan tidak ada yang berani
menyentuhnya. Setelah itu Amba pergi dan berdoa dengan keinginan untuk
menjadi penyebab kematian Bisma. Keinginannya terpenuhi sehingga
akhirnya Amba be
reinkarnasi menjadi Srikandi.
Saat Srikandi masih muda, ia mendapati sebuah puspamala tergantung di
atas gerbang istananya. Ia pun mengalungkan puspamala tersebut di
lehernya. Drupada takut bahwa Srikandi akan menjadi musuh Bisma sehingga
ia mengusir Srikandi agar kemarahan Bisma tidak berdampak pada
kerajaannya. Di tengah hutan, Srikandi berdoa dan berganti jenis kelamin
menjadi laki-laki.
[2] Menurut versi lain, ia kabur dari
Panchala, lalu bertemu seorang
yaksa yang kemudian menukar jenis kelaminnya kepada Srikandi. Setelah kematiannya, kejantanannya dikembalikan kembali kepada
yaksa.
[3]Saat
perang di Kurukshetra,
Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi
Amba, dan terlahir sebagai seorang wanita. Oleh karena Bisma tidak ingin menyerang "seorang wanita", maka ia menjatuhkan senjatanya.
[2] Setelah tahu bahwa Bisma akan bersikap demikian terhadap Srikandi,
Arjuna
bersembunyi di belakang Srikandi dan menyerang Bisma dengan tembakan
panah penghancur. Maka dari itu, hanya dengan bantuan Srikandi, Arjuna
dapat memberikan pukulan mematikan kepada Bisma, yang sebenarnya tak
terkalahkan sampai akhir.
[3][2] Akhirnya Srikandi dibunuh oleh
Aswatama pada hari ke-18
Bharatayuddha.
Subadra (Dewanagari: सुभद्रा; IAST: Subhadrā) atau
Sembadra (dalam tradisi pe
wayangan Jawa) merupakan salah satu tokoh utama dalam
wiracarita Mahabharata. Ia merupakan putri Prabu
Basudewa, raja di
Kerajaan Surasena.
Ia terkenal dalam budaya
pewayangan Jawa
sebagai seorang putri anggun, lembut, tenang, setia dan patuh pada
suaminya. Ia merupakan sosok ideal priyayi putri Jawa. Sewaktu kecil ia
bernama Rara Ireng. Subadra mempunyai dua orang kakak yaitu Kakrasana
yang kemudian menjadi raja di
Mathura dengan gelar Prabu
Baladewa dan Narayana yang kemudian menjadi raja di
Dwaraka dengan gelar Prabu Sri Batara
Kresna. Subadra menikah dengan salah satu anggota
Pandawa yakni
Arjuna. Subadra merupakan ibu
Abimanyu yang kemudian menurunkan Prabu
Parikesit.
Subadra lahir sebagai putri bungsu pasangan
Basudewa dan
Rohini, istrinya yang lain. Subadra dilahirkan setelah kedua kakaknya, yaitu
Kresna dan
Baladewa, membebaskan Basudewa yang dikurung oleh
Kamsa di penjara bawah tanah. Kemudian
Ugrasena, ayah Kamsa, diangkat menjadi raja di
Mathura dan Subadra hidup sebagai putri bangsawan di kerajaan tersebut bersama dengan keluarganya.
Saat
Arjuna menjalani masa pembuangannya karena tanpa sengaja mengganggu
Yudistira yang sedang tidur dengan
Dropadi, ia berkunjung ke
Dwaraka, yaitu kediaman sepupunya yang bernama
Kresna, karena ibu Arjuna (
Kunti) bersaudara dengan ayah
Kresna (
Basudewa).
Di sana Arjuna bertemu dengan Subadra dan mengalami nuansa romantis
bersamanya. Kresna pun mengetahui hal tersebut dan berharap Arjuna
menikahi Subadra, demi yang terbaik bagi Subadra. Pada saat itu status
Arjuna adalah suami yang memiliki tiga istri, yaitu
Dropadi,
Citrānggadā, dan
Ulupi. Maka pernikahannya dengan Subadra menjadikan Subadra sebagai istrinya yang keempat.
Subadra dan
Arjuna memiliki seorang putra, bernama
Abimanyu. Saat
Pandawa kalah main dadu dengan
Korawa,
mereka harus menjalani masa pembuangan selama dua belas tahun, ditambah
masa penyamaran selama satu tahun. Subadra dan Abimanyu tinggal di
Dwaraka
sementara Arjuna mengasingkan diri di hutan. Pada masa-masa itu
Abimanyu tumbuh menjadi pria yang gagah dan setara dengan ayahnya.
Ketika
perang besar di Kurukshetra berkecamuk, para pria terjun ke peperangan sementara para wanita diam di rumah mereka.
Abimanyu dan
Arjuna turut serta ke medan laga dan meninggalkan Subadra di
Dwaraka.
Pada waktu itu umur Abimanyu 16 tahun. Saat pertempuran berakhir, hanya
Arjuna yang selamat sementara seluruh putranya yang turut berperang
telah gugur, termasuk Abimanyu. Sebelum gugur, Abimanyu sudah menikah
dengan
Utari dan memiliki seorang putra bernama
Parikesit. Parikesit kemudian menjadi raja
Hastinapura menggantikan
Yudistira, pamannya. Subadra menjadi penasihat serta guru bagi cucunya tersebut.
Duryodana (
Sanskerta: दुर्योधन;
Duryodhana) atau
Suyodana adalah tokoh
antagonis yang utama dalam
wiracarita Mahabharata, musuh utama para
Pandawa. Duryodana merupakan inkarnasi dari
Iblis Kali. Ia lahir dari pasangan
Dretarastra dan
Gandari. Duryodana merupakan saudara yang tertua di antara seratus
Korawa. Ia menjabat sebagai raja di Kerajaan Kuru dengan pusat pemerintahannya di
Hastinapura.
Duryodana menikah dengan puteri Prabu
Salya
dan mempunyai putera bernama Laksmana (Laksmanakumara). Duryodana
digambarkan sangat licik dan kejam, meski berwatak jujur, ia mudah
terpengaruh hasutan karena tidak berpikir panjang dan terbiasa dimanja
oleh kedua orangtuanya. Karena hasutan
Sangkuni, yaitu pamannya yag licik dan berlidah tajam, ia dan saudara-saudaranya senang memulai pertengkaran dengan pihak
Pandawa. Dalam perang
Bharatayuddha, bendera keagungannya berlambang ular kobra. Ia dikalahkan oleh
Bima pada pertempuran di hari kedelapan belas karena pahanya dipukul dengan
gada.
Saat
Gandari hamil dalam jangka panjang yang tidak wajar, ia memukul-mukul kandungannya dalam keadaan frustasi dan cemburu terhadap
Kunti, yang telah memberikan
Pandu tiga orang putera. Atas tindakannya, Gandari melahirkan gumpalan daging berwarna keabu-abuan. Kemudian Gandari memuja
Byasa,
seorang pertapa sakti, yang kemudian memberi berkah seratus orang anak
kepada Gandari. Kemudian Byasa memotong gumpalan daging tersebut menjadi
seratus bagian, dan memasukkannya ke dalam pot. Kemudian pot-pot
tersebut ditanam di dalam tanah selama satu tahun. Setelah satu tahun,
pot tersebut digali kembali. Yang pertama kali dikeluarkan dari pot
tersebut adalah Duryodana, diiringi oleh Dursasana, dan adik-adiknya
yang lain.
Tanda-tanda yang buruk mengiringi kemunculannya dari dalam pot. Para
brahmana di keraton merasakan adanya tanda-tanda akan bencana yang buruk.
Widura
mengatakan bahwa jika tanda-tanda seperti itu mengiringi kelahiran
putranya, itu tandanya kekerasan akan mengakhiri dinasti tersebut.
Widura dan
Bisma menyarankan agar putera tersebut dibuang, namun
Dretarastra tidak mampu melakukannya karena rasa cinta dan ikatan emosional terhadap putera pertamanya itu.
Saat Duryodana bertarung sendirian dengan
Pandawa,
Yudistira mengajukan tawaran, bahwa ia harus bertarung dengan salah satu Pandawa, dan jika Pandawa itu dikalahkan, maka
Yudistira akan menyerahkan kerajaan kepada Duryodana. Duryodana memilih bertarung dengan senjata gada melawan
Bima.
Kedua-duanya memiliki kemampuan yang setara dalam memainkan senjata
gada karena mereka berdua menuntut ilmu kepada guru yang sama, yaitu
Baladewa.
Pertarungan terjadi dengan sengit, keduanya sama-sama kuat dan
sama-sama ahli bergulat dan bertarung dengan senjata gada. Setelah
beberapa lama, Duryodana mulai berusaha untuk membunuh Bima.
Pada waktu itu,
Kresna mengingatkan
Bima akan sumpahnya bahwa ia akan mematahkan paha Duryodana karena perbuatannya yang melecehkan
Dropadi. Atas petunjuk
Kresna
tersebut, Bima mengingat sumpahnya kembali dan langsung mengarahkan
gadanya ke paha Duryodana. Setelah pahanya dipukul dengan keras,
Duryodana tersungkur dan roboh. Ia mulai mengerang kesakitan, sebab
bagian tubuhnya yang tidak kebal telah dipukul oleh Bima. Saat Bima
ingin mengakhiri riwayat Duryodana,
Baladewa
datang untuk mencegahnya dan mengancam bahwa ia akan membunuh Bima.
Baladewa juga memarahi Bima yang telah memukul paha Duryodana, karena
sangat dilarang untuk memukul bagian itu dalam pertempuran dengan
senjata gada.
Kresna kemudian menyadarkan
Baladewa, bahwa sudah menjadi kewajiban bagi
Bima
untuk menunaikan sumpahnya. Kresna juga membeberkan
kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh Duryodana. Duryodana lebih
banyak melanggar aturan-aturan perang daripada Bima. Ia melakukan
penyerangan secara curang untuk membunuh
Abimanyu. Ia juga telah melakukan berbagai perbuatan curang agar Indraprastha jatuh ke tangannya.
Duryodana gugur dengan perlahan-lahan pada pertempuran di hari
kedelapan belas. Hanya tiga ksatria yang bertahan hidup dan masih berada
di pihaknya, yaitu
Aswatama,
Krepa, dan
Kretawarma. Setelah Duryodana gugur, ia masuk neraka, namun kemudian menikmati kesenangan di surga karena ia gugur di
Kurukshetra, tanah suci yang diberkati.

Karna (Dewanagari: कर्ण; IAST: Karṇa), alias
Radeya (Dewanagari: राधेय; IAST: Rādheya) adalah nama Raja
Angga dalam
wiracarita Mahabharata. Ia menjadi pendukung utama pihak
Korawa dalam
perang besar melawan
Pandawa. Karna merupakan kakak tertua dari tiga di antara lima Pandawa:
Yudistira,
Bimasena, dan
Arjuna.
Dalam bagian akhir perang besar tersebut, Karna diangkat sebagai
panglima pihak Korawa, dan akhirnya gugur di tangan Arjuna. Dalam
Mahabharata
diceritakan bahwa Karna menjunjung tinggi nilai-nilai kesatria. Meski
angkuh, ia juga seorang dermawan yang murah hati, terutama kepada fakir
miskin dan kaum
brahmana. Menurut legenda, Karna merupakan pendiri kota
Karnal, terletak di negara bagian
Haryana,
India Utara.
[3]
Mahabharata bagian pertama atau
Adiparwa mengisahkan seorang putri bernama
Kunti yang pada suatu hari ditugasi menjamu seorang pendeta tamu ayahnya, yaitu
Resi Durwasa. Atas jamuan itu, Durwasa merasa senang dan menganugerahi Kunti sebuah ilmu kesaktian bernama
Adityahredaya, semacam mantra untuk memanggil
dewa
dan mendapat anugerah putra darinya. Pada suatu hari, Kunti mencoba
mantra tersebut setelah melakukan puja di pagi hari. Ia mencoba
berkonsentrasi kepada
Dewa Surya,
dan sebagai akibatny, dewa penguasa matahari tersebut muncul untuk
memberinya seorang putra, sebagaimana fungsi mantra yang diucapkan
Kunti. Kunti menolak karena ia sebenarnya hanya ingin mencoba keampuhan
Adityahredaya. Surya menyatakan dengan tegas bahwa
Adityahredaya
bukanlah mainan. Sebagai konsekuensinya, Kunti pun mengandung. Namun,
Surya juga membantunya segera melahirkan bayi tersebut. Surya kembali ke
kahyangan setelah memulihkan kembali keperawanan Kunti.
Dalam
bahasa Sanskerta kata
karṇa
bermakna "telinga". Hal ini mengakibatkan muncul mitos bahwa Karna
lahir melalui telinga Kunti. Namun, Karna juga dapat bermakna "mahir"
atau "terampil". Kiranya nama Karna ini baru dipakai setelah Basusena
atau Radheya dewasa dan menguasai ilmu memanah dengan sempurna.

Madri (
Sanskerta: माद्री;
Mādrī) adalah salah satu tokoh dalam
wiracarita Mahabharata. Dia merupakan seorang puteri dari
Kerajaan Madra, adik dari
Salya yang diberikan kepada
Pandu, setelah
Salya kalah tanding dengan
Pandu.
Dalam kisah
Mahabharata, Prabu Pandu berhasil memenangkan
sayembara untuk mendapatkan
Kunti putri dari
Prabu Kuntiboja.
Prabu Salya yang terlambat datang menantang Pandu untuk mendapatkan
Dewi Kunti dengan taruhannya adalah Dewi Madri adiknya. Pandu kemudian
mendapatkan Madri dan menikahinya. Dari Madri, Pandu memiliki dua orang
anak kembar, yaitu
Nakula dan
Sadewa.
Madri adalah istri kedua
Pandu. Ia dinikahkan dengan Pandu untuk mempererat hubungan antara
Hastinapura dengan
Kerajaan Madra. Namun karena Pandu menanggung kutukan bahwa ia akan meninggal apabila
bersenggama, maka ia tidak bisa memiliki keturunan. Akhirnya Pandu dan istrinya mengembara di hutan sebagai pertapa dan meninggalkan
Hastinapura. Di sana,
Kunti mengeluarkan mantra rahasianya untuk memangil para Dewa. Ia menggunakan mantra tersebut tiga kali untuk memanggil Dewa
Yama,
Bayu, dan
Indra. Dari ketiga Dewa tersebut ia memperoleh tiga putera, yaitu
Yudistira,
Bima, dan
Arjuna. Kunti juga memberikan kesempatan bagi Madri untuk memanggil Dewa. Madri memanggil Dewa
Aswin, dan mendapatkan putera kembar bernama
Nakula dan
Sadewa.Pada suatu hari, ketika
Kunti dan putera-puteranya yang lain berada jauh,
Pandu mencoba untuk
bercinta dengan Madri. Karena kutukan yang diberikan kepadanya, ia meninggal saat menjalin
hubungan asmara dengan Madri. Kemudian Madri berpesan kepada Kunti, agar ia merawat
Nakula dan
Sadewa seperti anak kandungnya sendiri. Setelah itu, Madri menceburkan dirinya sendiri ke dalam api kremasi untuk menyusul suaminya.

Drestadyumna (
Sanskerta: धृष्टद्युम्न,
dhrishtadyumna) adalah seorang tokoh dari
wiracarita Mahabharata. Dia merupakan kakak bagi
Dropadi dan
Srikandi, keturunan Raja
Drupada yang berasal dari
Kerajaan Panchala. Ia berada di pihak
Pandawa saat
perang di Kurukshetra. Dialah yang membunuh Resi
Drona.
Saat Sang Resi tertunduk lemas dan kehilangan seluruh daya kekuataanya,
sebagai akibat dari kabar bohong tentang meninggalnya sang putera
Aswatama, Drestadyumena maju dan memenggal leher Sang Resi.Saat
Drona berhasil merebut separuh
Kerajaan Panchala dari tangan
Drupada,
kebencian Drona terhadap Drupada lenyap, namun sebaliknya Drupada
membenci Drona untuk selama-lamanya dan berambisi untuk membalas dendam.
Ia tahu bahwa Drona sulit dikalahkan sebab Drona merupakan murid
Bhargawa dan memiliki senjata ilahi. Akhirnya Drupada memutuskan untuk menyelenggarakan upacara
yadnya yang disebut
Putrakama supaya memperoleh putera yang bisa membunuh Drona. Dengan dibantu oleh para
resi, upacara tersebut terselenggara dengan baik. Dari dalam api upacara, munculah seorang pemuda gagah, lengkap degan
baju zirah dan
senjata. Atas sabda dari langit, anak tersebut diberi nama Drestadyumna.
Setelah
perang besar berakhir, putera dari Resi Drona, yaitu
Aswatama, bersama dengan
Krepa dan
Kertawarma, melakukan pembalasan dendam dengan membantai hampir semua putera-puteri, cucu, dan kerabat
Pandawa, termasuk yang menjadi korban adalah Drestadyumena sendiri,
Srikandi, dan
Pancawala.
Pembantaian tersebut dilakukan pada malam hari, ketika pasukan Pandawa
sedang tertidur lelap. Kisah tersebut terdapat dalam kitab
Sauptikaparwa.
Abimanyu (Dewanagari: अभिमन्यु; IAST: abhiman'yu) adalah seorang tokoh dalam
wiracarita Mahabharata. Ia adalah putra
Arjuna dan
Subadra. Dalam wiracarita
Mahabharata, ditetapkan bahwa Abimanyulah yang akan meneruskan
Yudistira sebagai pewaris takhta. Riwayatnya dituturkan sebagai pahlawan yang tragis. Ia gugur dalam
pertempuran besar di Kurukshetra sebagai salah satu
kesatria termuda dari pihak
Pandawa, karena baru berusia enam belas tahun. Abimanyu menikah dengan
Utari, putri Raja
Wirata dan memiliki seorang putra bernama
Parikesit, yang lahir tak lama setelah ia gugur.
Saat belum lahir karena berada dalam rahim ibunya, Abimanyu
mempelajari pengetahuan tentang memasuki formasi mematikan yang sulit
ditembus bernama
Chakrawyuha dari
Arjuna.
Mahabharata menjelaskan bahwa dari dalam rahim, ia menguping pembicaraan
Arjuna yang sedang membahas hal tersebut dengan ibunya,
Subadra.
Arjuna berbicara mengenai cara memasuki Chakrawyuha dan kemudian
Subadra tertidur, maka sang bayi tidak memiliki kesempatan untuk tahu
bagaimana cara meloloskan diri dari formasi itu.
Abimanyu menghabiskan masa kecilnya di
Dwaraka, kota tempat tinggal ibunya. Ia dilatih oleh ayahnya yang bernama
Arjuna yang merupakan seorang kesatria besar dan diasuh di bawah bimbingan Kresna. Ayahnya menikahkan Abimanyu dengan
Uttara, putri Raja
Wirata, untuk mempererat hubungan antara
Pandawa dengan keluarga Raja Wirata, saat pertempuran
Bharatayuddha yang akan datang. Pandawa menyamar untuk menuntaskan masa pembuangannnya tanpa diketahui di kerajaan Raja Wirata, yaitu
Matsya.
Sebagai cucu Dewa
Indra,
dewa senjata ajaib sekaligus dewa peperangan, Abimanyu merupakan
ksatria yang gagah berani dan ganas. Karena dianggap setara dengan
kemampuan ayahnya, Abimanyu mampu melawan kesatria-kesatria besar
seperti
Drona,
Karna,
Duryodana dan
Dursasana. Ia dipuji karena keberaniannya dan memiliki rasa setia yang tinggi terhadap ayah, paman, dan sekutunya.
Pada pertempuran di hari ketiga belas, pihak
Korawa menantang
Pandawa untuk mematahkan formasi perang melingkar yang dikenal sebagai
Cakrawyuha. Para Pandawa menerima tantangan tersebut karena
Kresna dan
Arjuna tahu bagaimana cara mematahkan berbagai formasi. Pada hari itu,
Kresna dan
Arjuna sibuk bertarung dengan Raja Trigarta dan laskar Samsaptaka. Karena
Pandawa
sudah menerima tantangan tersebut, mereka tidak memiliki pilihan selain
mencoba untuk menggunakan Abimanyu yang masih muda, yang memiliki
pengetahuan tentang bagaimana cara mematahkan formasi Cakrawyuha namun
tidak tahu bagaimana cara keluar dari dalamnya. Untuk meyakinkan bahwa
Abimanyu tidak akan terperangkap dalam formasi tersebut, Pandawa
bersaudara memutuskan bahwa mereka dan sekutu mereka akan mematahkan
formasi itu bersama Abimanyu dan membantu sang pemuda keluar dari
formasi tersebut.
Abimanyu menggunakan kecerdikannya untuk menembus formasi tersebut.
Pandawa bersaudara dan sekutunya mencoba untuk mengikutinya, namun
mereka dihadang oleh
Jayadrata, Raja
Sindhu, yang memakai anugerah
Siwa agar mampu menahan para
Pandawa—kecuali
Arjuna—hanya untuk satu hari. Setelah tertinggal, Abimanyu berjuang sendirian dalam menghadapi serangan pasukan
Korawa. Abimanyu membunuh beberapa kesatria yang mendekatinya, termasuk putra
Duryodana, yaitu Laksmana. Setelah menyaksikan putra kesayangannya terbunuh, Duryodana marah besar dan menyuruh segenap pasukan
Korawa untuk menyerang Abimanyu. Karena gagal menghancurkan
zirah Abimanyu,
Karna
menghancurkan busur Abimanyu dari belakang. Kemudian keretanya
dihancurkan, kusir dan kudanya dibunuh, dan seluruh senjatanya terbuang.
Putra
Dursasana
mencoba untuk melawan Abimanyu dengan tangan kosong. Tanpa menghiraukan
aturan perang, pihak Korawa menyerang Abimanyu secara serentak.
Abimanyu mampu bertahan sampai pedangnya patah dan roda kereta yang ia
pakai sebagai
perisai
hancur berkeping-keping. Tak berapa lama kemudian, Abimanyu dibunuh
oleh putra Dursasana dengan cara menghancurkan kepalanya dengan
gada.
Pancawala atau
Pancakumara adalah sebutan untuk lima orang putra
Dropadi dari hasil perkawinannya dengan
Pancapandawa dalam
wiracarita Mahabharata. Istilah Pancakumara berasal dari
bahasa Sanskerta, yaitu “
pañca” yang bermakna lima dan “
kumara” yang bermakna putra.
Nama kelima orang Pancakumara yang dilahirkan oleh
Dropadi tersebut antara lain adalah:
- Pratiwindya putra Yudistira
- Sutasoma putra Bimasena
- Srutasena putra Arjuna
- Satanika putra Nakula
- Srutakerti putra Sahadewa
Peran Pancakumara dalam cerita
Mahabharata jika dibandingkan dengan putra
Pandawa lainnya, terutama
Abimanyu dan
Gatotkaca. Meskipun demikian, Pratiwindya berhasil membunuh Dursasanaputra, yaitu tokoh yang mengakhiri nyawa Abimanyu dalam
perang di Kurukshetra.
Setelah perang berakhir,
Duryodana sang pemimpin
Korawa dalam keadaan sekarat sempat mengangkat
Aswatama sebagai panglima untuk meneruskan pertempuran. Aswatama disertai dua orang rekannya yang masih hidup, yaitu
Krepa dan
Kretawarma menyusup ke dalam perkemahan pihak Pandawa.
Di dalam kemah tersebut, Aswatama membunuh
Drestadyumna, pangeran dari
Kerajaan Pancala.
Ia kemudian menemukan lima orang pria dalam keadaan tertidur. karena
mengira kelimanya adalah Pandawa, Aswatama pun langsung membunuh mereka.
Selain itu Aswatama juga membunuh
Srikandi, kakak Drestadyumna.
Ternyata lima orang yang tewas dibunuh Aswatama sewaktu tidur bukan para Pandawa, melainkan Pancakumara.

Sumber: Wikipedia